Archive for November, 2007

Overclock Firefox

Di kutip dari forum tetangga. Original Created by habisi_aku

Untuk membuka konfigurasi di firefox, ketik alamat about:config di Address Bar, lalu enter.

Ubah parameter di konfigurasi seperti dibawah ini

browser.tabs.showSingleWindowModePrefs – true
network.http.max-connections – 64
network.http.max-connections-per-server – 20
network.http.max-persistent-connections-per-proxy – 10
network.http.max-persistent-connections-per-server – 4
network.http.pipelining – true
network.http.pipelining.maxrequests – 100
network.http.proxy.pipelining – true
network.http.request.timeout – 300
nglayout.initialpaint.delay = 0
network.http.request.max-start-delay = 0
network.http.proxy.version = 1.0

Kalo ada parameter yang ga ada, klik kanan trus pilih New
String = Untuk nilai yang mengangandung huruf
Integer = nilai yang mengandung angka
Boolean = Nilai yang mengandung 2 pilihan (Yes/No) atau (True/False)

Setelah selesai, restar Firefox nya. Dijamin, tuh firefox makin NGACIIIIRRRRR :P

Tapi inget bagi yang di warnet, soalnya ini bisa bikin overload. Jadi komputer yang lain bisa kesedot speed nya. :P

1 Comment

JANGAN PERNAH KALAH!!!

Saudaraku, coba renungkan….

Memang ada orang pintar yang hidupnya miskin, orang bodoh yang hidupnya kaya raya, pembela kebenaran hidup terisolir, orang kafir mrmiliki harta benda, orang islam jadi penyapu jalanan.

Tapi, renungkan lagi saudaraku…

Nabi ya’qub harus kehilangan anaknya Yusuf yang sangat dicintainya. Bertahun kemudian hilang pula adiknya Bunyamin. Ketika anak yang kedua itu hilang, karena ditangkap oleh wakil raja Mesir yang sebenarnya adalah Yusuf sendiri, Ya’qub tetap tidak berputus asa berharap pada Allah. Dia hanya menerima kejadian itu dengan harapan yang lebih besar,
“semoga Allah mengembalikan anak2ku itu semuanya.” (Yusuf;83)
“ Sabarlah yang lebih baik, dan kepada Allah lah tempat meminta tolong.” (Yusuf;18)
lihat juga nabi Ibrahim. Cobaan apa yang melebihi cobaan yang menimpa kekasih Allah itu?imannya diuji dengan ujian yang beratnya tidak ada tandingnya. Diperintahkan untuk menyembelih anak kandung sendiri.

Mana yang lebih besar dari kita dengan penderitaan nabi Adam?. Bersenang2 dalam surga dengan isterinya, lalu diperintahkan untuk keluar. Isa Al-masih pun seperti itu. RAsulullah Muhammad lebih-lebih lagi.
Pernahkan mereka mengeluh? Tidak. Mereka yakin bahwa iman kepada Allah memang menghendaki perjuangan, pengorbanan sekaligus keteguhan hati. Mereka tidak terlalu menuntut kemenangan lahir, karena memang mereka selalu menang di alam bathin. Mereka memikul beban berat, menjadi Rasul Allah, memikul perintah Allah, dank arena itulah mereka tempuh kesulitan. Pertama, untuk membuktikan kecintaannya pada Allah, dan kedua, untuk menggembleng batinnya agar menjadi semakin kokoh.

Saudaraku,

Disitulah tersimpan kekuatan iman. Bukan pada sujud dan ruku’. Sujud dan ruku’ hanya laksana dahan yang berasal dari batang keimanan. Dahan akan kurus, daun akan kering, bila batang tak memiliki akar tang kuat, kokoh dan tak mudah goyah diterpa angina dan badai. Dahan dan ranting sangat tergantung pada suplai makanan dari batang dan akar. Batang dan akar itulah substansi iman.
Saudaraku, sekali lagi…

Jangan pernah kalah oleh beratnya cobaan hidup. Tidak semua permintaan kita harus dikabulkan. Karena Allah lah yang lebih mengenal batin kita daripada kita sendiri. Teka-teki hidup ini sangat banyak. Jangan menyangka Allah lemah menolong hambaNya.

Saudaraku,

Lalu kapan dan bagaimana pertolongan dan bantuan Allah itu? Ibnu’Athaillah memberi pengarahan yang sangat bagus dalam hal ini.
“Tampilkan dengan sesungguhnya sifat kekuranganmu niscaya Allah menolongmu dengan sifat kesempurnaanNya. Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kemuliaanNya. Bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kemuliaanNya. Bersungguh-sungguhlan dengan ketidak berdayaanmu, niscaya ia menolongmu dengan kekuasaanNya. Bersungguh-sungguhlah dengn kelemahanmu, niscaya Ia menolongmu dengan kekuatanNya.”

Pertolongan, dukungan, kemenangan Allah itu pasti. “Adalah hak bagi Kami menolong orang2 beriman.” (Ar Rum;47). Sedetik pun Allah tak pernah meninggalkan hambaNya yang beriman. Dan jika Ia berkehendak, tak ada yang dapat menghalangi turunnya pertolongan dan bantuanNya. Masalahnya hanya ada pada proses turunnya pertolongan dan bantuan itu. Karenanya sekali lagi, jangan pernah kalah oleh cobaan.
__________________
dewyc01@yahoo.com

2 Comments

Pasrahkan dimana saja Allah mendudukkan dirimu

“Adapun manusia, bila Rabb-nya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata : “Rabbku telah memuliakanku. Sedang jika Rabbnya mengujinya, lalu ia mengurangi rezekinya, maka ia berkata, “Rabbku menghinaku.       (QS. Al-Fajr : 15-16)


Kita semua umumnya pernah mengalami. Memohon pada Allah dengan sepenuh hati, khusyu, agar Allah memberikan sesuatu yang kita inginkan. Meminta dengan penuh harap kepada Allah untuk mengabulkan permintaan yang kita anggap itulah kenyataan yang paling baik. Berharap pada Allah agar Allah memberikan kita sebuah nikmat yang dalam pandangan kita, nikmat itulah yang paling tepat untuk kita.
Tapi … ternyata, permintaan itu tak kunjung dikabulkan oleh Allah swt. Mungkin, banyak di antara kita yang mengalami keadaan seperti ini mengeluh, kecewa, putus asa, frustasi, dan sebagainya. Padahal, pernahkah kita berpikir, sejauh mana kebenaran asumsi kita bahwa penundaan pemberian Allah itu adalah suatu bencana? Atau, pernahkah kita merenungkan, mungkin penundaan permintaan kita itu justru karunia yang harus kita syukuri? Apakah pengabulan do’a dan harapan itu selalu bermakna kemuliaan dari Allah untuk kita? Atau apakah pemberian langsung Allah kepada kita itu justru sebuah bencana? Kita tidak pernah tahu rahasia itu semua. Menganggap bahwa pemberian itu bukti kemuliaan dan penundaan pemberian itu keburukan, merupakan sikap yang disinggung dalam firman Allah swt, “Adapun manusia, bila Rabb-nya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata : “Rabbku telah memuliakanku. Sedang jika Rabbnya mengujinya, lalu ia mengurangi rezekinya, maka ia berkata, “Rabbku menghinaku.” (QS. Al-Fajr : 15-16) Manusia yang diceritakan dalam firman Allah itu, menganggap kesenangan identik dengan kemuliaaan dari Allah. Sebaliknya pengurangan rizki itu identik dengan penghinaan dari Allah.

Pemberian dan penundaan nikmat merupakan masalah yang paling penting dan amat berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Sayangnya seperti firman Allah tersebut, banyak banyak orang yang keliru memahami masalah itu. Dan karena itulah al-Qur`an meluruskannya. Seringkali Allah menangguhkan pemberian dunia pada makhluk yang paling dicintai-Nya, sementara Ia mencurahkan segala macam kesenangan dunia kepada makhluk yang paling dimurkai-Nya. Karena itu, pemberian duniawi dari Allah bukan tanda kemuliaan, dan penahanan pemberian bukan tanda kehinaan. Ibnu Athaillah berkata, “Jika Allah menahan pemberian-Nya padamu, maka pahamilah bahwa itu adalah suatu karamah (kemuliaan) untukmu selama kau pertahankan keislaman dankeimananmu, hingga segenap apa yang dilakukan Allah kepada dirimu menjadi karunia pula kepadamu.” Ia kemudian  melanjutkan, “Cukuplah sebagai balasan Allah atas ketaatanmu, jika Dia ridha kepadamu karena engkau menjadi orang yang taat kepadanya. Cukuplah sebagai balasan atas orang-orang yang beramal, Allah bukakan hatinya untuk menjalankan ketaatannya, dan apa saja yang diberikan pada mereka berupa kesenangan terhadap-Nya.”

No Comments